Sejarah Desa Jungkare

3 Comments

Desa Jungkare menurut riwayat dahulu berupa hutan belukar banyak ditumbuhi glagah alang alang. Kemudian datang ditempat ini dua bersaudara yang selanjutnya disebut nama :
1.    Nyai Jengkare dan adiknya
2.    Kyai Ageng Gribig
        Dua orang membakar hutan belukar kemudian bekas api pembakaran dijadikan pedukuhan dan ditanami macam-macam tanaman pohon. Kalau dilihat peta desa ini pantas dahulu bekas api pembakaran sebab bentuknya ditepi berliku-liku. Tanaman peninggalan Nyai Jengkare yang sekarang masih hidup ialah pohon nangka gedhe.
Setelah pedukuhan ini banyak penghuninya, Kyai Ageng Gribig Jengkar dari pedukuhan ini menuju ke arah barat sampai Jatinom. Jengkar dari dukuh ini ke Jatinom ( Jengkar dalam bahasa Jawa Jengkare menjadi Jungkare) Nyai jengkare disuruh Menetap dan sesekali dikunjungi Kyai Ageng Gribig. Menurut cerita para sesepuh Kyai Ageng Gribig tiap bulan puasa mengimami shalat tarawih di Jungkare. Setelah selesai Tarawih di Jungkare kembali ke Jatinom mengimami shalat Tarawih di Jatinom.
        Desa Jungkare disebut juga Karangjungke karena seorang Bupati Anom Jungkare bertempat tinggal di Desa Karanganom yaitu Bandoro Kliwon Reksodipuro I alias Muthahal. Riwayatnya pada akhir perang Diponegoro seorang pahlawan bernama Kyai Mojo putra Kyai Mojo yang dimakamkan di desa Janti bermarkas di Desa Jungkare. Satu kompi pasukan Belanda masuk Desa Jungkare untuk menangkap Kyai Mojo tetapi tidak berhasil. Disebabkan kesaktian Kyai Mojopasukan Belanda tidak terarah dan anak buah Kyai Mojo bersembunyi di gua-gua buatan pasukan Kyai Mojo, sekarang masih ada terletak ditepi sungai sebelah barat desa Jungkare yang sekarang dikenal dengan nama Rong Pedhet. Hal ini karena dahulu ada sapi kecil/pedhet yng digembala disungai dekat gua itu masuk dan sulit keluar lagi.
       Satu kompi pasukan Belanda setelah beberapa hari di Jungkare tidak dapat menemukan Kyai Mojo dan anak buahnya, kembali dan lapor kepada atasannya. Kemudian Gubernur Jendral Belanda berunding dengan Raja Surakarta bagaimana
caranya untuk dapat menengkap Kyai Mojo. Hasil Perundingan dikeluarkan sayembara siapa yang dapat menangkap dan menyerahkan Kyai Mojo di istana Surakarta diberi kedudukan pangkat Bupati Anom/Kliwon tujuh keturunan, gelar Tumenggung sayembara disiarkan keseluruh kerajaan Surakarta. Mengingat setelah tertangkapnya Pangeran Diponegoro pasukannya menjadi buyar dan lumpuh, termasuk Kyai Mojo rupa-rupanya menjadi putus harapan untuk melanjutkan perang, maka dipanggillah salah seorang anak buah Kyai Mojo yang tersetia bernama Muthahal disuruh menghadap Raja Surakarta masuk sayembara dan sanggup menangkap Kyai Mojo yang nantinya akan berada di Kleco supaya dijemput dan diserahkan raja di istana Surakarta.
Muthahal berangkat keistana Surakarta,Kyai Mojo berangkat ke Kleco mengambil jalan dari Jungkare, Jebugan, Karanganom, Jurangjero menuju Janti,ziarah orang tuanya. Kemudian Beliau berangkat ke Kleco menunggu murid yang setia yang disuruhnya mengambil sayembara dari istana Surakarta. Muthahal mupu sayembara diterim dengan senang oleh Raja, diberi kalung cinde pada lehernya pertanda perintah segera dilaksanakan dan diberi kereta kuda untuk titian dan sejumlah pengawal.
       Segera Muthahal menuju Kleco sampai disana bertemu Kyai Mojo terus diikat dengan cinde dinaikkan kereta dihaturkan raja diistana Surakarta. Dan sesudah selesai kesemuanya Kyai Mojo dibuang ke Ambon, Muthahal diangkat bupati Anom kembali ke Jungkare kemudian bertempat tinggal di Desa Karanganom. Maka Beliau mendapat gelar Kliwon Karangjungke Reksodipuro I. Beliau yang pertama-tama mendirikan pabrik gula tebu jadi gula batu yang bekas pabriknya sekarang masih ada yaitu totogan jalan dari Desa Jungkare sebelah selatan Desa Jebugan desa Karanganom dan namanya pabrik Karangjungke. Akan tetapi pada waktu beliau menunaikan ibadah haji ke Mekkah meninggal dunia di Mekkah, pabriknya diambil aliholeh Onderneming Belanda dan dipindah ketimur daerah Karangan sekarang dan makin disempurnakan, dan menghasilkan gula pasir nama pabriknya pabrik gula Karanganom.
       Berhubung pimpinan pabrik gula Karanganom ini masih keluarga Raja karena perkawinan sedang raja yang berkuasa atas semua tanah, maka areal pabrik untuk tanaman tebu disewanya dari raja dengan mudah. Termasuk sawah-sawah Jungkare Songgogawe untuk kebutuhan pabrik gula tersebut. Penderitaan petani makin berat terus turun temurun karena sawahnya terus dikurangi dan tenaga diperas oleh onderneming. Banyak dari orang Jungkare dahulu mengajukan tuntutan kepada Raja berdemonstrasi dan berpanas-panas dan mengajukan wakil demonstran menghadap Patih Dalem menyampaikan tuntutannya (cerita mbah Harjodikromo), almarhum salah seorang yang ikut demonstrasi beberapa hari diSurakarta dipimpin oleh Wongsorejo Wates. Setelah adanya peristiwa itu di Surakarta datanglah Ir.Soekarno berpidato dirumahnya mbah Demang Mangunpawiro, bahwa Jungkare dalam rangka gerakan kemerdekaan dan menuntut upah buruh. Rupanya rapat tersebut diketahui Belanda dan banyak pemuda Jungkare diambil untuk diurus di Kawedanan Ponggok. Diantara Pemuda-pemuda tersebut yang sekarang masih adalah Haji Abdullahhadi dan Ahmad Rustam. Oleh karena wedononya baik, tidak mau mengurus malah disuruh pulang. Tetapi Desa Jungkare terus diawasi ketat oleh pemerintah Belanda dikirimkan satu pasukan kompeni Belanda bermalam dirumah R.Harjosudarso sekarang ini. Menurut perintah tugasnya keKarangjungke Ditunjukkan desa Karanganom tidak mau yang namanya Jungkare inilah yang dimaksud Karangjungke oleh Pimpinan Kompeni Belanda.
      Jaman perang kemerdekaan desa Jungkare juga menjadi markas pejuang-pejuang, para gerilyawan sering menghadang tentara Belanda disebelah utara desa pada waktu tentara Belanda menduduki Jatinom, seorang putra Jungkare tewas dalam peristiwa itu ialah Much Tahrir dan dimakamkan dimakam Daleman Jungkare.
        Karena seringnya pencegatan gerilyawan kita disebelah utara Jungkare maka menimbulkan kemarahan tentara Belanda. Desa Jungkare dijadikan karangabang dihujani api konon ratusan rumah penduduk dibakar tentara Belanda. Hal ini tidak mengendorkan semangat justru makin gigih penduduk membantu pejuang-pejuang kita untuk mempertahankan kemerdekaan RI.
Desa Jungkare adalah Desa yang paling banyak mengalami pergantian pemimpin sejak adanya Lurah Desa Tahun 1921.
Adapun Kepala Desa  yang pernah menjabat :
Kepala Desa I  : Darmo Sutirto sejak tahun 1921-1924
Kepala Desa II : Demang Trunodikoro sejak tahun 1924-1929
Kepala Desa III : Sastrowirjo sejak tahun 1929-1933
Kepala Desa IV : Djojokartono sejak tahun 1933-1939
Kepala Desa V  : Wiryohamijoyo sejak tahun 1939-1944
Kepala Desa VI : Harjosukaryo sejak tahun 1944-1944
Kepala Desa VII : Wiryowiyoto sejak tahun 1944-1947
Kepala Desa VIII: H Djuraimi sejak tahun 1947-1956
Kepala Desa IX   : H Maesuri sejak tahun 1956-1988
Kepala Desa X    : Joko Supama sejak tahun 1988-1991
Kepala Desa XI   : Gunawan Wibisono sejak tahun 1991-1993
Kepala Desa XII  : Ali Walgito sejak tahun 1993-2002
Kepala Desa XIII : Wakhid Muhsin sejak tahun 2002-2013
Kepala Desa XIV : Ananti Windu Nugroho tahun 2013-sekarang

3 komentar: